| |
Adit's posts with tag: dirgahayu

Dulu almarhum bokap gua pernah bilang kalau dirgahayu itu artinya panjang umur dan banyak orang yang salah mengartikannya sebagai selamat ulang tahun, seperti : "DIRGAHAYU RI ke-61".Dan bodohnya, kesalahan ini banyak sekali dipakai sampai ke lembaga-lembaga pemerintahan. Sampai sekarang gua liat cuma satu atau dua spanduk saja yang memakai kata dirgahayu dalam kalimat yang benar.....berikut ini ada sebuah artikel tentang kata dirgahayu yang diambil dari kompas:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/11/utama/2870778.htm-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Dirgahayu RIPamusuk EnesteDalam beberapa hari ini kita akan menyaksikan aneka ragam sambutan masyarakat terhadap Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus. Di gedung-gedung, di jalan-jalan, dan di mulut gang akan bertebaran spanduk atau tulisan berbunyi Dirgahayu HUT RI Ke-... dan sejenisnya. Juga akan bermunculan iklan di televisi dan media cetak dengan bunyi yang kurang lebih sama.Sudah sejak tahun 1975 sebetulnya Anton M Moeliono mengoreksi pemakaian Dirgahayu HUT RI Ke-... itu. Anton Moeliono menyarankan kita mengganti kata-kata itu dengan Dirgahayu Republik Indonesia atau Selamat Ulang Tahun Ke-... Republik Indonesia (Santun Bahasa, 1984, halaman 11-12). Yus Badudu pun pernah mengoreksi hal yang sama dan mengusulkan penggunaan Dirgahayu RI Ber-HUT Ke-... atau Dirgahayu Kemerdekaan Kita (Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, 1983, halaman 26).Boleh jadi banyak di antara kita yang tidak membaca tulisan Anton M Moeliono dan Yus Badudu. Tidak mengherankan kalau kita menjumpai kesalahan yang sama saban tahun.Apa yang salah dengan ucapan Dirgahayu HUT RI? Menurut kamus dan para ahli bahasa, dirgahayu bermakna ’(semoga) panjang umur’. Jadi, kalau kita katakan Dirgahayu HUT RI berarti HUT RI-lah yang kita harapkan berumur panjang, bukan RI atau Kemerdekaan RI.Kekeliruan yang mirip terjadi pada kata dilempari. Sebuah koran sore pernah menurunkan judul berita: Rumah Sri-Bintang Pamungkas Dilempari Batu. Orang-orang yang bagus penguasaan bahasanya pastilah mengerutkan kening membaca kepala berita itu. Bagaimana mungkin benda mati (batu) melempari rumah Sri-Bintang? Bukankah seharusnya orang yang melempari rumah Sri-Bintang?Dugaan kita, pastilah ada yang tak beres dengan si wartawan. Ternyata benar. Setelah kita membaca teks berita, nyatalah maksud si wartawan. Menurut si wartawan, ada sejumlah orang yang melempari rumah Sri-Bintang Pamungkas. Mereka melemparinya dengan batu. Namun, kalau judul berita seperti tertulis di atas, pastilah jauh panggang dari api. Lain di hati lain ditulis. Seharusnya judul berita itu ditulis (1) Rumah Sri-Bintang Pamungkas Dilempari, atau (2) Rumah Sri-Bintang Pamungkas Dilempari Orang, atau (3) Rumah Sri-Bintang Pamungkas Dilempari Orang dengan Batu. Tinggal pilih: mau judul pendek atau judul panjang.Lain lagi berita sebuah koran pagi. Dalam sebuah berita, wartawan koran ini menulis: Beberapa waktu yang lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan menemukan empek-empek dan mi basah yang dijual di beberapa tempat di Sumatera Selatan ternyata mengandung formalin. Perhatikanlah kata empek-empek yang digunakan!Barangkali yang ada di kepala si wartawan adalah pempek, yakni ’makanan khas daerah Palembang dari adonan tepung terigu dan ikan, dimakan dengan kuah yang bercuka’ (KBBI Edisi Ketiga, 2001, halaman 847). Makanan yang disukai banyak orang. Namun, si wartawan menuliskannya dengan empek-empek.Tahukah Anda apa itu empek-empek? Menurut KBBI, empek-empek berarti ’laki-laki yang sudah tua sekali; kakek-kakek’. Jadi, jauh sekali dengan apa yang ada di kepala si wartawan. Lagi-lagi, lain di kepala lain di berita.Penulis Seorang Pengamat Bahasa

| | |
|
|